3 Model Internasionalisasi Kampus

Notification

×

Kategori Posting

Cari Postingan

Halaman

Iklan

Iklan

Indeks Pos

3 Model Internasionalisasi Kampus

Selasa, 26 September 2023 | September 26, 2023 WIB Last Updated 2023-12-14T17:13:51Z

 

(Dokumen Istimewa/Penulis)

Prof Ahmad Ali Nurdin, Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Gunung Djati Bandung

DAMAIKU.ID - Masih tentang internasionalisasi. Bersumber dari bacaan lain. Referensi-referensi lain, dalam membahas internasionalisasi.  Ketika definisi internasionalisasi berbeda-beda. Yang kompleks dan ‘berwajah banyak.’ 


Tentu melahirkan strategi dan model internasionalisasi yang berbeda pula. Saya tidak tahu. Model mana yang akan diadopsi di kampus. Lebih tepatnya, yang mungkin diadopsi. Atau yang jadi prioritas.


Definisi dan perspektif tentang internasionalisasi yang berbeda-beda itu. Juga melahirkan pendekatan-pendekatan yang beragam. Pertama, apakah pendekatan internasionalisasinya fokus pada aktivitas kegiatan internasional. Kedua, pendekatan kompetensi. Artinya, mengembangkan skills, sikap, pengetahuan dosen, mahasiswa dan tendik. Ketiga, pendekatan yang menekankan tujuan. Yaitu bertujuan meningkatkan ethos atau budaya  di kampus. Yang menghargai nilai-nilai lintas budaya dan perspektif internasional. 


Atau pendekatan yang memandang bahwa internasionalisasi adalah proses mengintegrasikan dimensi atau perspektif internasional terhadap fungsi-fungsi utama kampus. Seperti yang ditekankan Knight (1995). Fungsi tridharma perguruan tinggi, misalnya. 


Chan dan Dimmock lima belas tahun yang lalu sudah melakukan penelitian. Tentang internasionalisasi kampus. Chan atau nama lengkapnya Wendy W.Y. Chan adalah seorang dosen di University of Toronto Canada. Sementara Clive Dimmock dari University of Leicester, UK. Keduanya mencoba mengungkap bagaimana praktek internasionalisasi kampus yang dilakukan oleh dua kampus yang berbeda. Satu kampus di Inggris dan satu kampus di Hongkong.


Hasil penelitiannya menyebutkan bahwa ada dua strategi yang dilakukan oleh kampus di Inggris dan Hongkong dalam internasionalisasi. Satu strategi organisasi. Dan satunya lagi strategi program. Strategi organisasi berhubungan dengan kebijakan dan infratsruktur kampus. Sementara strategi program atau kurikulum bisa dibedakan menjadi dua. Apakah internasionalisasi di dalam negeri atau internasionalisasi di luar negeri. Dalam kasus kampus di Inggris, fokusnya lebih pada rekrutmen mahasiswa internasional dan pemenuhan kebutuhan mahasiswa ketika datang ke kampus. 


Sementara untuk kampus di Hongkong, strateginya ditujukan untuk mengurangi resistensi akademisi di kampus terhadap penggunaan Bahasa Inggris sebagai media pembelajaran; internasionalisasi kampus untuk keuntungan mahasiswa local; dan berusaha menambah kemampuan kampus mendapatkan mahasiswa asing.


Chan dan Dimmock juga menyebut bahwa program internasionalisasi kampus yang dikembangkan kampus-kampus di Inggris bisa disebut dengan model internasionalist. Sementara yang dikembangkan di Hongkong, mereka sebut dengan istilah model translocalist.


Model internasionalist itu kebanyakan ditemukan di negara-negara yang secara ekonomi maju. Populasinya multikultural, terutama di negara-negara berbahasa Inggris. Kampusnya sudah mapan. Riset para dosen dan mahasiswanya bertarap internasional. Mahasiswa internasionalnya cukup signifikan. Sudah bisa bersaing di dunia internasional. Baik dari sisi akademik maupun risetnya.


 Strategi internasionalisasinya focus pada internasionalisasi ke luar negeri. Yaitu menyediakan mata kuliah-mata kuliah yang berwawasan global. Bisa diakses oleh siapa saja di dunia. Punya aliansi kerjasama dengan partner-partner internasional. Baik Kerjasama akademik maupun dengan industry.


Sementara model translocalist kebanyakan dilakukan oleh negara-negara berkembang. Negara dengan status ekonomi belum maju. Negara dengan populasi yang homogen dengan nation-building menjadi prioritas pemerintahannya. Terutama negara-negara paska kolonialisme. Kebanyakan mahasiswanya mahasiswa local. Hanya sedikit dosennya alumni luar negeri. Mahasiswa internasionalnya hanya sedikit. Hasil penelitian-penelitian dosennya hanya focus pada kebutuhan masyarakat local dan nasional. Masih bertujuan dan berjuang menjadi universitas terbaik secara nasional. Meskipun mempunyai wawasan global, tapi alumninya belum bisa bersaing di dunia kerja global. Pendekatan internasionalisasinya masih internasionalisasi internal dalam negeri. Seperti internasionalisasi kurikulum melalui injeksi kurukulum berdimensi global. Dan bagi negara yang bahasa Inggris bukan bahasa pengantar, masih berusaha menciptakan lingkungan supaya aktif berbahasa Inggris. Dengan cara mengirim mahasiswa dan dosen ke luar negeri. Atau melakukan kerjasama dengan partner-partner di luar negeri.


Tentu dua model ini. Tidak bisa diterapkan di semua konteks negara dan institusi perguruan tinggi. Setiap negara dan kampus mempunyai pilihan-pilihan sendiri. Model mana yang pas untuk diterapkan. Mungkin bisa internasionalist, translocalist atau mungkin semi internasionalist. 


Hanya saja, Chan dan Dimmock menyebut adanya model ketiga. Mereka sebut sebagai model globalist. Inilah model ketiga internasionalisasi kampus. Model ketiga ini dianggap sebagai model baru dalam peta kontemporer internasionalisasi kampus. Model ini muncul karena dipengaruhi trend globalisasi. Dipandang sebagai bentuk pragmatis dari internasionalisasi pendidikan. Model ini adalah produk dari globalisasi ekonomi dan budaya.


Dari tiga model internasionalisasi kampus di atas. Mana yang bisa kita pilih. Para pengambil kebijakan di kampus perlu melihat dan menganalisa. Langakah apa dan bagaimana yang akan dilakukan. Dalam program internasionalisasi kampus.


Jika membaca tiga model itu, mungkin model kriteria kedua yaitu transnasionalist yang mendekati situasi kampus kami di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Dalam empat tahun ke depan kriteria-kriteria transnasionalist mana yang akan menjadi prioritas kita. Perlu roadmap program yang jelas. Tahun kesatu fokusnya apa, tahun kedua bagaimana dan seterusnya dan seterusnya. 


Sudah pasti, roadmap dan program itu perlu dukungan teknis dan finansial. Karenanya, programnya harus dibedah secara detail oleh seluruh stakeholders di kampus. Sehingga seluruh pihak yang terlibat di kampus paham. Saling mendukung. Saling bersinergi. Seluruh civitas akademika harus satu visi dan satu tujuan tentang internasionalisasi ini. Programnya harus baik, jelas dan terukur. Yang didukung oleh perencanaan dan penganggaran yang tepat. Saya yakin, dengan bekerjasama dan sama-sama bekerja. Apa yang kita harapkan tentang internasionalisasi kampus bisa tercapai dengan baik. Insya Allah.

Tag Terpopuler